Keranjang
Belanja
    [ 0 Barang ]

 
 
 
Alamat:
Jl. Dr. Sutomo No. 13 A
Yogyakarta INDONESIA
telp: +62-274-562338

Jam Buka:
Senin - Sabtu
09.00-15.00 WIB


Makna Filosofi dan Cerita di Balik Berbagai Motif batik - seri Semen
2015-05-21 14:22:56

Motif Semen.

Semen berasal dari kata semi yang artinya tumbuh, sehingga diartikan “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur).

Ornamen motif semen terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua  adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga  adalah ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak.

Ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.

Ragam motif Semen:

Semen Gurdo, digunakan untuk pesta. Makna yang terkandung yakni agar si pemakai mendapatkan berkah dan terlihat berwibawa.

Semen Romo, Motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaan melalui delapan jalan. Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat. Nasihat tersebut termaktub di dalam asta brata (delapan keutamaan bagi seorang pemimpin), yaitu:

1.     Endabrata, yaitu pemberi kemakmuran dan pelindung dunia. Dilambangkan dengan pohon hayat.

2.     Yamabrata, yaitu menghukum yang bersalah secara adil. Dilambangkan dengan awan atau meru (gunung).

3.     Suryabrata, yaitu watak matahari yang bersifat tabah. Dilambangkan dengan garuda.

4.     Sasibrata, yaitu watak rembulan yang bersifat menggembirakan dan memberi hadiah kepada yang berjasa. Dilambangkan dengan ornamen binatang.

5.     Bayubrata, yaitu watak luhur. Dilambangkan dengan ornamen burung.

6.     Dhanababrata atau kuwerabrata, yaitu watak sentosa dan memberi kesejahteraan pada bawahan. Dilambangkan dengan ornamen bintang.

7.     Pasabrata, yaitu berhati lapang tetapi berbahaya bagi yang mengabaikan. Dilambangkan dengan kapal air.

8.     Agnibrata, yaitu kesaktian untuk memberantas musuh. Dilambangkan dengan ornamen lidah api.

Semen Mentul, digunakan untuk pakaian sehari-hari. Orang yang menggunakan motif ini umumnya tidak memiliki keinginan yang pasti.

Semen Rante, rante berarti rantai yang melambangkan ikatan. Jadi motif ini memiliki arti ikatan cinta yang terus tumbuh bersemi antara kedua mempelai.

Semen Kuncoro,  digunakan kegiatan sehari-hari di kraton. Mengandung makna bahwa sang pemakai akan memancarkan kebahagiaan.

Semen Kakrasana, motif berasal dari Surakarta. Dibuat ketika Paku Buwono IX, setelah abad ke 19, menggambarkan keteguhan hati, berjiwa kumawulo (merakyat). Bisa digunakan oleh masyarakat umum.  

Semen Naga Raja, dibuat ketika Paku Buwono IV, akhir abad ke 18, sebagai lambang ketentraman dalam menjalankan pemerintahan, memberikan perlindungan kepada rakyat atas dasar cinta kasih.. Digunakan oleh abdidalem keratin setingkat bupati ke atas.

Semen Kingkin, bermakna menunjukkan suasana prihatin dalam kehidupan, dan permohonan supaya diberi jalan yang terang. Khusus untuk orang yang sudah berkeluarga, bukan lajang. 

Semen Kipas, berarti memberikan kesegaran. Motif ini termasuk motif yang muda (batik gagrak anyar). Dipakai untuk siapa saja dalam suasana apa saja.

Semen Kukila, bermakna agar manusia dalam bertutur kata hendaknya tidak membuat sakit hati orang lain, seharusnya dapat menyenangkan orang lain. Dipakai untuk siapa saja dalam suasana apa saja. 

Semen Sida-Raja, bermakna harapan terlaksananya cita-cita yang tinggi. Biasanya digunakan oleh Bupati keatas, atau masyarakat pada saat upacara resmi.

Semen Remeng, bermakna mengingatkan bahwa dalam kehidupan ini selalu ada dua hal yang berpasangan, misalnya ada masa senang dan masa susah, baik dan buruk, dan sebagainya. Bisa digunakan oleh masyarakat umum. 

Semen Candra, dibuat ketika Paku Buwono IX, pertengahan abad ke 19, berisi petunjuk bahwa seorang yang mempunyai kedudukan tinggi harus memberikan pengayoman kepada yang berada dibawahnya, menunjukkan sikap kumawulo (merakyat) dan tidak kumawasa (sok berkuasa). Bisa digunakan oleh masyarakat umum.  

Semen Gendhong, dibuat ketika Paku Buwono IX, akhir abad ke 19, berarti menjunjung tinggi derajat keluarganya. Bisa digunakan oleh masyarakat umum. 

Pola motif ini terdiri dari sembilan motif utama.Posisi pohon hayat di samping kanan-kiri atas sepanjang motif-motif garuda.Di samping kanan-kiri bawah terdapat motif binatang berkaki empat, di bawah pohon hayat terdapat motif garuda, dan di bawahnya terdapat empat pasang motif ayam. Di atas pohon hayat terdapat motif meru, kemudian di samping kanan-kiri atas terdapat motif baito, di atas meru juga terdapat motif sepasang burung dan sua pasang motif ikan.Secara keseluruhan motif pohon hayat di atasnya motif meru dikelilingi oleh motif binatang darat, air, dan udara seolah menjaga keberadaan pohon hayat.



Ditulis ulang oleh Lia Indriani, tenaga edukator Museum Batik Yogyakarta 2015.
Saran dan masukan untuk tulisan via info@museumbatik.com



<< kembali ke indeks artikel




Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0