Keranjang
Belanja
    [ 0 Barang ]

 
 
 
Alamat:
Jl. Dr. Sutomo No. 13 A
Yogyakarta INDONESIA
telp: +62-274-562338

Jam Buka:
Senin - Sabtu
09.00-15.00 WIB


Batik Buketan dalam perspektif Karina Melati: Ekonomi, Politik dan Identitas.
2015-05-22 15:44:16

 
"Batik itu identitas, banyak kehadiran dalam setiap ekspresinya. Mbatik itu lelaku, butuh keikhlasan dalam setiap prosesnya. tapi batik juga barang dagangan, butuh pasar untuk menentukan setiap nilainya."
 
Dalam seminar kecil yang digelar di ruang Driyarkara, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Karina Melati, memaparkan hasil penelitiannya tentang batik, khususnya batik buketan dari Pekalongan.
Hadir pula Agus Ismoyo, seniman batik yang telah diakui oleh keraton Yogyakarta sebagai penerus batik tradisional. Agus Ismoyo selain berkesenian dengan media batik juga memberikan gambaran tentang batik sebagai komoditi bisnis.
 
Dalam seminar ini, selain dipaparkan pelbagai fakta menarik mengenai batik dalam konteks sejarah rentang waktu, kita diajak melihat kembali bagaimana jatuh bangun batik di Nusantara. Semarak batik pada awal abad 20 yang salah satunya ditandai dengan motif buketan, sampai terpuruknya batik tahun 1940an akibat Perang Dunia II. Juga dikisahkan kesedihan dibalik keindahan batik Hokkokai yang juga menjadi jembatan pertemuan seni tradisi antar bangsa. Beruntung Museum Batik Yogyakarta mempunyai koleksi pada masa ini.
Juga menjadi menarik bagaimana Karina menemukan benang merah batik pada era Presiden Soekarno. Gerakan 'Batik Indonesia' sungguh berpengaruh pada perkembangan batik selanjutnya. Tentu saja contoh batik era ini dapat dilihat di Museum Batik Yogyakarta.

Tahun 2007 merupakan tahun yang cukup penting. Klaim Malaysia atas batik membangunkan sentimen kita kembali pada batik. Dan pada tahun ini juga, kecenderungan batik yang dinamai secara tradisional berdasarkan motifnya berubah menjadi menurut even, nama penemunya maupun tekniknya.Motif tidak lagi terpatok pada kedaerahan.
 
Karina menyimpulkan, pembentukan selera atas motif buketan menunjukkan terjadinya pengalaman membatik baik dari penampilan maupun pengalaman pengerjaannya. Keterlibatan wanita Indo dalam membuat motif buketan terbatas hanya pada tataran pembentukan ide dan motif, tidak sampai pada tahap produksi membatik canting.
Kelompok industri pun terbentuk, dan berkembang. Motif buketan menjadi strategi untuk menguasai pasar. Dinamika identifikasi masyarakat Pekalongan dalam menentukan diri dan lingkungannya dibangun oleh kehadiran dan pertemuannya dengan berbagai bentuk selera yang selanjutnya dikomodifikasi oleh kelompok masyarakatnya sendiri. Perubahan motif batik Pekalongan dengan sendirinya menjadi bukti estetika kolektif terbentuk melalui negosiasi. Pekalongan menjadi contoh tempat bekerjanya sistem relasi subyektif dari posisi-posisi sosial yang saling berhubungan.
Melalui motif buketan kita dapat melihat dinamika bekerjanya identitas: dibuat, dipakai, dieksplorasi dan divisualisasikan untuk mengkomunikasikan tatanan sosial sehingga pada akhirnya akan menetapkan dan memperkuat bentuk identitas sosial di Pekalongan.



Suasana ruang Driyarkara lantai 4, Gedung Seminar Sanata Dharma Yogyakarta. Ascoltaci ke tujuh ini juga dimeriahkan oleh penampilan Sisir Tanah.


Ditulis oleh Lieke S. Kuncoro, staf harian Museum Batik Yogyakarta, 20015.



<< kembali ke indeks artikel




Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0