Keranjang
Belanja
    [ 0 Barang ]

 
 
 
Alamat:
Jl. Dr. Sutomo No. 13 A
Yogyakarta INDONESIA
telp: +62-274-562338

Jam Buka:
Senin - Sabtu
09.00-15.00 WIB


Museum Batik Yogyakata, Sebuah Perjalanan
2015-05-20 11:59:52

Batik Hari Ini...
         UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan pusaka dunia pada tahun 2009.
 
Awal Mulanya...
         Museum Batik Yogyakarta diprakarsai oleh pasangan Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih.

Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih, pertengahan 2008

   Hadi Nugroho, lahir 5 Desember 1928, adalah generasi ke 3 keluarga pengusaha dan pelestari batik. Beliau menghadap Sang Pencipta pada 5 September 2008.

            Pada tahun 1960an, pabrik tekstil mulai memproduksi tekstil bermotif batik. Hadi Nugroho sendiri sempat tertarik dengan teknik printing dan memproduksinya. Dia memasukkan teknik batik tradisional (teknik tulis halus) di dalam teknik printingnya, yang dapat dinikmati di Museum Batik Yogyakarta saat ini.


Suasana Malioboro masa kini, sumber: internet.

           Namun, seiring dengan waktu, hati kecilnya tidak dapat menerima perkembangan bahwa Seni Batik disejajarkan dengan produk masal. Setelah teringat pesan Ibunya, untuk melestarikan batik dan menurunkannya kepada generasi penerus, maka dengan segera beliau dan istri mulai mengumpulkan kain-kain dan peralatan membatik yang dimiliki oleh keluarga.
Tanpa kenal lelah, beliau memilah dan menyusunnya secara sistematis.



Lembar Baru dalam Sejarah...
  Pada tahun 1973, upaya Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih mulai mendapat apresiasi dari Pemerintah Republik Indonesia. Tepat pada 12 Mei 1979, Museum Batik Yogyakarta diresmikan oleh Drs. Tanrip Roestarto, Kanwil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Yogyakarta pada saat itu dan menjadi museum batik yang pertama dan terlengkap.


Momen pembukaan Museum Batik 12 Mei 1979

Waktu demi Waktu...
            Berawal dari bangunan rumah yang dialihfungsikan, Museum Batik Yogyakarta perlahan-lahan menata dan menempatkan koleksi harta warisan budaya batik Jawa dalam ruangan yang lebih layak kunjung.

Sebuah Tekad, Sebuah Persembahan...
          Setelah pasar diramaikan oleh batik printing yang murah meriah, banyak pengrajin batik yang harus menutup usahanya dan berganti profesi, termasuk Hadi Nugroho.

          Walaupun keadaan ekonomi keluarga tidak sebaik dahulu, kecintaan Hadi Nugroho pada batik tak pernah surut. Tekadnya sangat kukuh untuk mendedikasikan koleksinya untuk masyarakat luas. 

Sebuah Warisan...
          Kami sebagai generasi penerus alm. Hadi Nugroho tetap bertekad meneruskan idealismenya. Mempertahankan Museum Batik Yogyakarta sebagai tempat menyimpan koleksi dan preservasi batik.
  Sebagai tempat dimana orang bisa mendapatkan referensi dan informasi mengenai batik, pola serta teknik membatik yang otentik.

Semangat yang Tak padam...
         Museum Batik Yogyakarta generasi penerus alm. Hadi Nugroho dengan segala daya upaya mempertahankan kelangsungan museum dengan secara aktif. Namun seiring dengan waktu, perbaikan bangunan perlu diupayakan untuk menjaga koleksi ini tetap aman. Sampai saat ini, Museum Batik Yogyakarta tetap menjaga koleksinya dengan segala daya upaya yang memungkinkan.



<< kembali ke indeks artikel




Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0